BLANTERWISDOM101

Terbiasa Mencela

November 21, 2019

Gambar ilustrasi (sumber: canva.com)

Video ini didapat dari status salah satu teman di Whatsapp. Meski hanya berdurasi beberapa detik, namun menurutku pesannya sangat dalam.


Berkisah tentang seorang raksasa (anggap saja seorang) yang tengah menahan gelindingan batu besar untuk melindungi istana (anggap saja istana) di kaki bukit. Namun tak disengaja, ujung kakinya mengenai salah satu bangunan istana, dan menyebabkan sebagian istana tersebut roboh.

Melihat hal itu, tentu saja pihak istana langsung menembaki, melempari raksasa dengan berbagai persenjataan. Dengan dalih, raksasa tersebut merupakan ancaman bagi mereka. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya raksasalah yang membentengi mereka dari bahaya besar.

Mereka baru paham, saat si raksasa sudah berhenti menahan batu tersebut. Saat batu tersebut sudah menggelinding dan menghancurkan mereka. Saat semuanya sudah benar-benar terlambat.

Dan nyatanya, hal seperti ini sering terjadi di lingkungan kita. Bahkan, disadari atau tidak, kita sering menjadi layaknya istana di video ini.

Seringkali, kita menilai sesuatu hanya dari sudut pandang kita sendiri. Kita selalu mempercayai sesuatu itu baik, hanya karena ia terlihat baik dari kacamata kita. Begitupun sebaliknya. Menganggap segala sesuatu itu salah, hanya karena terlihat salah dalam kacamata kita. Parahnya, kita kekeh dengan 'pendapat salah' kita tersebut.

Di dunia nyata maupun sosial media, sangat banyak ditemui orang-orang yang memperdebatkan sesuatu yang sesungguhnya ia tak kenali. Ia mencaci, mencela, menghardik, menghina, membully seseorang yang padahal tak benar-benar ia tahu sepenuhnya. Ia mengkritik dengan kalimat kasar, pedas, bahkan sangat menjatuhkan harga diri orang lain.

Padahal, ada banyak hal yang terjadi yang tak terlihat oleh kita. Kalau dipersentasekan, mungkin hanya 0,0001%, sesuatu yang terjadi masuk dalam frame hidup kita. Bisa jadi tidak sampai. Lantas, kenapa kita masih saja menuhankan pendapat kita, kemudian mencela pendapat lainnya?

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).
Share This :
Opin Grasela

A learner who has a high interest in education, mathematics, technology, entrepreneurship, and art.

0 comments